Inilahcom Menuju DKI 1

Jokowi Ingin Ada Diferensiasi 10 Bali Baru

RAY MUHAMMAD   Kamis, 16 November 2017 20:03 WIB
Jokowi Ingin Ada Diferensiasi 10 Bali Baru
Presiden Joko Widodo (Jokowi) - (Foto: inilahcom)
SHARE
facebook twitter

INILAHCOM, Bogor - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat terbatas dengan topik Pengembangan 10 Bali Baru di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/11).

Sebagaimana diketahui, saat ini pemerintah tengah menggagas 10 Bali Baru untuk meningkatkan sektor pariwisata Indonesia.

Kesepuluh Bali Baru itu adalah Danau Toba (Sumut), Belitung (Babel), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Mandalika Lombok (NTB), Pulau Komodo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara) dan Morotai (Maluku Utara).

Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan 10 destinasi wisata prioritas itu merupakan kesempatan besar bagi Indonesia untuk terus mengembangkan potensi pariwisatanya.

"Apabila kita memiliki banyak objek destinasi wisata baru yang kalau kita lihat tren dunia saat ini misalnya turis yang paling dekat dari kita, Tiongkok, itu lonjakannya yang keluar terakhir data yang saya dapat kurang lebih 125 juta," kata Jokowi.

Ia meyakini jumlah turis asal Tiongkok ini akan terus berkembang dalam lima tahun menjadi 180 juta. Perkembangan ini, lanjutnya, akan terus mengalami kenaikan.

"Itu hanya dari satu negara. Dari sana, hampir separuhnya masuk ke Asia. Separuh dari 125 juta atau 62 juta masuk ke Asia," ucapnya.

Seharusnya, kata Kepala Negara, dengan melihat angka tersebut, jika Indonesia memiliki destinasi 10 Bali baru yang digarap cepat maka akan menjadi daya tarik tambahan.

"Tentu saja dengan diferensiasi yang berbeda antara satu dengan lainnya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, sehingga orang datang karena keindahan pantainya, keindahan budayanya," ucapnya.

Ia mecontohkan daya tarik 10 Bali baru itu antara lain seperti Candi Borobudur yang menawarkan keindahan geo park atau cantiknya Danau Toba yang merupakan danau terbesar di Indonesia.

"Sehingga kita harapkan yang 62 juta hanya dari satu negara, misalkan separuh atau sepertiganya datang ke kita itu sudah 20 juta. Ini baru dari satu negara. Sehingga target yang kita berikan ke Menpar 20 juta itu bukan angka yang sulit dicapai," pungkasnya.[jat]